Sabtu, 08 Juni 2013

PACU JALUR



PROSES PEMBUATAN JALUR DAN ORGANISASINYA
1.       Sejarah pacu jalur
Jalur adalah suatu hasil budaya, dikenal baik oleh masyarakat rantau kuantan, dalam kurun waktu yang sudah cukup lama. Adapun rantau kuantan meliputi beberapa kecamatan yang semuanya itu termasuk kedalam kabupaten Indragiri hulu. Dengan adanya proses pemekaran kabupaten maka teluk kuantan menjadi kabupaten kuantang singing (kuansing).
Menurut ninik mamak sekitar tahun 1900, yaitu ketika belanda belum masuk ke teluk kuantan untuk menjajah.
Sebelum ada pacu jalur masyarakat telah membuat perahu besar untuk alat transportasi, waktu itu transportasi yang ada hanya kuda dan perahu, dan perahu ini dipergunakan seperti mengangkut tebu, padi, pisang dan lain sebagainya.
Pacu jalur ini pada awalnya diperlombakan pada saat hari besar islam seperti idul adha, idul fitri dan mauled nabi besar Muhammad saw. Pada saat itulah perahu besar dilombakan dan perahu tersebut dihiasi sedemikian rupa. Karena lomba diadakan semakin disukai oleh masyarakat, maka akhirnya penghulu turun tangan untuk mengantar tata cara perlombaan.
Perkembangan selanjutnya yaitu sekitar tahun 1900 ada perubahan bentuk perahu menjadi bentuk “jalur” yang diprakarsai oleh penghulu. Saat itu isi jalur berkisar antara 50-60 orang dan masing-masing jalur memiliki seorang pawing ataupun dukun jalur. Pada tahun 1905 belanda masuk ke teluk kuantan dari sumatera barat.
Pacu jalur mulai dikenal di rantau kuantan sejak abad ke 17 dan mulanya hanya digunakan sebagai sarana untuk mengangkut dan membawa tamu-tamu terhormat seperti raja-raja serta juga digunakan sebagai pengangkut hasil bumi seperti tebu, pisang, padi, jagung dan lainnya. Pada abad ke 20 jalur merupakan tanda kehormatan yang teramat besar, bila seorang yang agung dating maka dipersiapkan jalur untuk menjemputnya, semenjak tahun 1900 jalur sudah dijadikan sarana pacu (lomba) yang dikenal sekarang dengan pacu jalur. Pada tahun 1991 pacu jalur sudah menjadi even nasional.
Dalam daerah taluk kuantan sebelum kedatangan belanda di kuasai oleh pemuka adat, terutama para penghulu masing-masing suku. Pacu jalur semacam ini diberi hadiah yang bernama “marewa”. Marewa itu berupa semacam bendera yang berbentuk segi tiga dari kain yang berwarna-warni yang diberi renda dipinggirnya. Hadiah ini biasanya diberikan kepada para pemenang yang ke 4. Besar kecilnya marewa itu menjadi ukurang sehingga diketahui pemenang 1, 2, 3, 4.
Sesudah perahu jalur yang digunakan untuk mengangkut hasil bumi tersebut, pernah pula muncul di teluk kuantan sekarang ini, semacam jalur yang diberi ukiran bermotif kepala binatang pada haluannya. Ukiran itu misalnya kepala ular, kepala buaya, kepala harimau. Muatan jalur ini juga kira-kira 40 orang jalur yang diukir dengan kepala binatang ini  disamping dipacukan juga digunakan untuk kendaraan orang besar saat itu, yaitu menyambut, menjemput dan mengantar penghulu, datuk-datuk dan yang lainnya. Jalur yang bermotif gambar kepala binatang inilah yang mulai menggunakan dukun jalur dan pawing jalur, serta sudah ada kemudi yang panjang tempat maonjai dan mempunyai lambai-lambai (uu. Hamidy, 1977 : 15).
Jalur yang sudah mempunyai motif diperkirakan muncul dalam saat-saat kedatangan belanda sekitr tahun 1903.
Karena pesta pacu jalur yang diadakan belanda itu hanya sekali setahun, setiap hari ulang tahun ratu belanda maka kedatangan pesta itu tiap tahun dipandang oleh penduduk rantau kuantan sebagai suatu datangnya tahun baru. Penduduk kampong rantau kuantan menamakan pesta jalur zaman belanda dengan sebutan tambaru, yang merupakan pendekan dari tahun baru. Hal ini masih berlaku sampai sekarang, meskipun pesta pacu jalur sekali setahun di teluk kuantan diadakan untuk merayakan ulang tahun hari kemerdekaan republic Indonesia, tapi masih tetap disebut oleh masyarakat setempat dengan tambaru.

2.       Proses pemmbuatan jalur.
a.       Rapat banjar.
Jalur tidak dapat dibuat begitu saja tanpa melalui berbagai proses, baik yang menyangkut masalah tenaga atau biaya maupun yang menyangkut masalah lainnya.
Sebelum jalur dibuat, terlebih dahulu dibentuk suatu pengurus yang tugasnya mengurus segala sesuatu yang diperlukan dalam pembuatan jalur. Pengurus ini disebut partuo yang dapat diartikan sebagai orang yang dituakan. Partuo ini tidak tertentu jumlahnya, juga tidak begitu jelas pembagian tugas dan wewenang antara sesamanya. Tetapi yang jelas adalah mereka ini ditunjuk setelah diadakan rapat oleh suatu kampong.
b.      Kayu jalur.
Setelah partuo terbentuk maka dicarilah kayu jalur. Jenis kayu yang dipilih adalah sejenis kayu yang tahan air dan tidak mudah pecah kalau dibuat menjadi jalur.
Kayu yang dicari untuk jalur adalah kayu yang tahan air, tidak mudah pecah bila dibuat jalur. Biasanya kayu yang dibuat jalur adalah kayu kure, kuyhung, banio, kayu tanam dan meranti sogar. Kayu tersebut baru bias diambil apabila batangnya lurus, besarnya dua kali pelukan orang dewasa.
Dalam mencari kayu jalur harus diiringi oleh dukun kayu, karena kayu tersebut mempunyai mambang, mambang kayu itu sama dengan nyawa pada manusia.
Dalam usahamencari kayu jalur ini haruslah didampingi oleh salah seorang dukun kayu, yaitu orang yang dipandang mempunyai pengetahuan tentang masalah kayu termasuk masalah mambang yang mungkin tinggal atau menghuni kayhu itu. Menurut dukun kayu, apabila sudah sampai empat helai daun kayu itu, maka kayu itu sudah mempunyai mambang. Mambang bagi kayu sama dengan roh bagi manusia.
c.       Menobang.
Jika kayu jalur sudah diperoleh dan sudah sepakat partujo dengan masyarakat untuk memilih kayu itu, maka diadakan upacara menebang. Upacara ini tentu saja di dalam hutan, dipimpin oleh dukun jalur atau orang yang sudah dianggap akan menjadi dukun kelak. Tetapi sekurang-kurangnya upacara ini dipimpin olehkepala tukang yang biasanya dukun jalur.
Sebelum dilakukan penebangankayu terlebih dahulu dukun kayu menyembelih seekor ayan yang berwarna kuning, dengan maksud untuk mendarahi penebangan tersebut agar tidak mendapat halangan dari makhluk-makhluk halus dalam hutan. Penyembelihan ini dipandang sebagai permintaan kepada empunya hutan.
d.      Tukang jalur.
Setelah kayu ditebang maka tukang sudah dapat mulai bekerja. Tukang jalur ini ditentukan oleh partuo. Tukang jalur terdiri dari kepala tukang sebanyak satu orang, pembantu tukang sebanyak dua atau tiga orang dan anggota masyarakat yang dapat untuk membantu.
Kepala tukang dengan pembantunya mengukur kayu jalur dan member tanda-tanda, setelah itu dapatlah dimulai bekerja bersama-sama. Kepala tukang adalah orang yang bukan hanya menguasai masalah tekhnis, tetapi juga secara magis. Bagi masyarakat kauntan lajunya jalur tidak hanya ditentukan oleh masalah tekhnis tetapi juga ditentukan oleh masalah magisnya.
Setelah tukang jalur mulai bekerja, maka partuo mengatur masalah biaya dan tenaga pembantu dari masyarakat. Partuo biasanya membuat beberapa rombongan yang terdiri lebih kurang 10 orang yang nantinya akan dapat bekerja membantu tukang utama, yang diberikan upah biasanya hanya kepala tukang dan pembantunya. Upah tukang sangat relative sekali karena pihak tukang biasanya tidak memandang pekerjaan itu sebagai pekerjaan upahan. Mereka juga memandang sebagai kewajiban mereka terhadap kampong, hal ini menyebabkan upah tukang jarang ditentukan dengan tawar menawar.
Biaya untuk kepentingan tukang itu biasanya diusahakan oleh partuo, denganjalan mengumpulkan sumbangan dari anggota masyarakat kampong yang dipandang mampu memberikan sumbangan.
e.      Cara membuat jalur.
Setelah kayu  bulat itu ditebang dan diukur oleh kpala tukang dengan pembantunya, maka dapatlah mereka mulai bekerja. Kayu jalur dikerjakan dengan mempergunakan alat pertukangan yang masih tradisional.
Setelah hasil pekerjaan mencapai kerangka dasar maka bagian badan (ruang) jalur diberi lobang dengan bor. Lobang bor itu disumbat dengan kayu, kayu yang menyumbat itu namanya kakok. Kakoknya ini digunakan untuk memudahkan tukang mengetahui tebal ruangan jalur, sehingga dengan mengikuti ukurankakok itu dapatlah ruangan jalur mempunyai ukuran yang sama dan juga kakok ini berfungsi agar jalur tidak pecah saat pendiangan.
Setelah pekerjaan selesai kira-kira dua pertiga atau sekitar 60% maka jaluritu didiang. Jalur didiang dengan cara meletakkan api dibawahnya sehingga nantinya bila panas telah mencukupi, maka ruangan itu akan dikembangkan dengan cara menarik kekiri dan kekanan, ini biasanya menggunakan rotan.
f.        Maelo jalur.
Setelah jalur selesai didiangkan di hutan, maka disiapkan acara maelo, yaitu suatu upacara menarik jalur dengan tali sampai kekampung.
Hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk maelo jalur adalah :
Ø  Kapan waktu penarikan jalur pertama dimulai.
Ø  Orang yang akan menarik jalur.
Ø  Pembuat jalan, yang bertugas merintis dan menebas jalan yang akan dilalui dan menyingkirkan rintangan yang menghalang.
Ø  Tukang galang, orang-orang yang bertugas mempersiapkan kayu-kayu yang akan dijadikan bantalan jalur pada waktu ditarik supaya penarikan lebih mudah.
Ø  Tukang tali, orang-orang yang akan mempersiapkan tali penarik jalur. Tali dibuat dari danan (sejenis rotan yang besar) berlapis tiga sepanjang lebih kurang 100 meter. Untuk itu danan tersebut disambung dan diikat dengan rotan biasa supaya menjadi kuat dan tahan waktu menarik jalur yang cukup besar itu.
Kegiatan maelo jalur bukanlah pekerjaan yang mudah, selain berat jalan yang ditemph juga jauh dan jalannya tidak mulus bahkan kadang-kadang melewati rawa-rawa. Namun demikian dalam sejarahnya tidak pernah ada jalur yang tinggal dalam hutan. Maelo jalur memakan waktu berbulan-b ulan, karena kegiatan ini tidak dilakukan setiap hari tapi sekali seminggu, makin dekat jalur kekampung makin tinggi frekuensi penarikan.
Jika jalur sudah siap untuk ditarik, maka seluruh masyarakat diberitahukan dengan jalan memukul canang pada malam hari dan diumumkan kapan waktu pelaksanaannya. Ibu-ibu rumah tangga di minta supaya mempersiapkan nasi bungkus untuk bekal orang yang akan maelo jalur. Kalau jarak yang ditemph sudah mencapai pertengahan, mulailah wanita dan anak-anak dilibatkan.
Disinilah dimulai ajang pertemuan antara bujang dan gadis, kemeriahan akan tampak lebih semarak tatkala masing-masing mulai memegang tali penarik jalur, berselang seling antara pria dan wanita. Bila tangan sudah komando yang meneriakkan hitungan… satu … dua … ti..gaaaa, …, lalu jalur ditarik.
Pelan tapi pasti jalur bergerak sedikit demi sedikit, disebabkan oleh beratnya jalur yang ditarik maka sambungan tali akan bergeser dan akhirnya putus. Akibat dari putusnya tali maka penarik akan jatuh terjerembab berhimpitan satu sama lainnya. Seiring dengan putusnya tali terdengarlah suara sorakan mereka  berbaur dengan gelak dan tawa kegembiraan. Disitulah letak keindahan dan keasyikan menarik jalur yang sukar untuk dilupakan, tidak seorang pun yang memperlihatkan wajah cenberut, letih dan sedih tetapi keceriaanlah yang akan dijumpai. Semakin dekat jalur kedesa semakin banyak pula berdatangan ikut serta menarik jalur.
Hal ini disebabkan karena sudah menjadi kebiasaan dari dahulu, desa yang membuat jalur mengundang desa-desa yang berdekatan untuk menarik jalur. Masing-masing keluarga harus mempersiapkan secukupnya makanan bagi anggota keluarga yang ikut, bahkan untuk sanak keluarganya yang laki-laki yang berlum berkeluarga.
g.       Bagian-bagian jalur.
Jalur mempunyai beberapa b again yang setiap bagiannya mempunyai fungsi yang berbeda-beda pula, adapun bentuk jalur setelah selesai dikerjakan tukang akan berbentuk seperti gambar berikut :
Gambar jalur setelah selesai dikerjakan.


Keterang :
1.       Luan jalur
2.       Telinga jalur
3.       Ruang jalur
4.       Perut jalur
5.       Kemudi
6.       Ekor belibis
7.       Gulung sirih
Jalur dalam bentuk seperti gambar di atas belum dapat dipakai untuk pacu jalur. Jika jalur hendak dipacukan, maka jalur akan dilengkapi sedemikian rupa sehingga akan kelihatan seperti gambar berikut ini.
Kegunaan dari setiap bagian dapat diterangkan sebagai berikut. Luan atau haluan gunanya tempat duduk atau tempat menari tukang tari. Teling gunanya untuk hiasan. Papan tungkahan adalah tempat duduk tukang concang (di muka) dan tempat duduk tukang kemudi (di belakang)m debgab adanya papan mereka dapat bergerak lebih leluasa waktu dalam pacu. Panggar dan ular-ular adalah tempat duduk, panggar terbuat dari kayu bulat sedangkan ular-ular dari batang pinang dan juga berfungsi mengatur lebarnya ruangan jalur. karena ular-ular diikatkan kepada panggar dan panggar diikatkan dengan tembuku, maka jalur menjadi kuat tidak lemah kalau di onjai. Timbo ruang adalah bagian tengah jalur yang sengaja dikosongkan ditekankan kebawah oleh tukang onjai, maka haluan naik atau bergerak keatas. Di kemudi terdapat tempat menyarungkan lambai-lambai disebut sarang loba. Gulung sirih gunanya untuk tempat menyangkutkan lambai-lambai. Selanjutnya jalur baru siap untuk dipacukan dan berbentuk seperti gambar ini.
h.      Peralatan jalur.
Di samping factor manusianya, jalur masih mempunyai beberapa perlatan lainnya. Peralatan sebagian besar sebagai pendukung estetis atau nilai-nilai seni dan sebagain lagi memang merupakan peralatan penting yaitu pengayuh atau pendayung.
Secara terperinci peralatan itu adalah :
                                                               i.      Pengayuh.
Pengayuh gunanya untuk berdayung, tetapi sesuai dengan adanya tiga macam golongan orang yang mempergunakannya yaitu tukang concang, anak pacu dan tukang kemudi, maka pengayuh ada tiga macam sesuai dengan kebutuhannya.
Pengayuh tukan concang cirinya adalah runcing, daun lebar, tangkainya pendek dan tidak licin serta ringan. Sedangkan pengayuh anak pacu cirinya lebar, tipis daunnya, rungcing dan ringan. Sedangkan pengayuh tukang kemudi paling belar, paling panjang tangkainya.

1 komentar: