PROSES PEMBUATAN JALUR DAN ORGANISASINYA
1. Sejarah pacu jalur
Jalur adalah suatu hasil budaya, dikenal baik oleh
masyarakat rantau kuantan, dalam kurun waktu yang sudah cukup lama. Adapun
rantau kuantan meliputi beberapa kecamatan yang semuanya itu termasuk kedalam
kabupaten Indragiri hulu. Dengan adanya proses pemekaran kabupaten maka teluk
kuantan menjadi kabupaten kuantang singing (kuansing).
Menurut ninik mamak sekitar tahun 1900, yaitu ketika
belanda belum masuk ke teluk kuantan untuk menjajah.
Sebelum ada pacu jalur masyarakat telah membuat perahu
besar untuk alat transportasi, waktu itu transportasi yang ada hanya kuda dan
perahu, dan perahu ini dipergunakan seperti mengangkut tebu, padi, pisang dan
lain sebagainya.
Pacu jalur ini pada awalnya diperlombakan pada saat hari
besar islam seperti idul adha, idul fitri dan mauled nabi besar Muhammad saw.
Pada saat itulah perahu besar dilombakan dan perahu tersebut dihiasi sedemikian
rupa. Karena lomba diadakan semakin disukai oleh masyarakat, maka akhirnya
penghulu turun tangan untuk mengantar tata cara perlombaan.
Perkembangan selanjutnya yaitu sekitar tahun 1900 ada
perubahan bentuk perahu menjadi bentuk “jalur” yang diprakarsai oleh penghulu.
Saat itu isi jalur berkisar antara 50-60 orang dan masing-masing jalur memiliki
seorang pawing ataupun dukun jalur. Pada tahun 1905 belanda masuk ke teluk
kuantan dari sumatera barat.
Pacu jalur mulai dikenal di rantau kuantan sejak abad ke
17 dan mulanya hanya digunakan sebagai sarana untuk mengangkut dan membawa
tamu-tamu terhormat seperti raja-raja serta juga digunakan sebagai pengangkut
hasil bumi seperti tebu, pisang, padi, jagung dan lainnya. Pada abad ke 20
jalur merupakan tanda kehormatan yang teramat besar, bila seorang yang agung
dating maka dipersiapkan jalur untuk menjemputnya, semenjak tahun 1900 jalur
sudah dijadikan sarana pacu (lomba) yang dikenal sekarang dengan pacu jalur.
Pada tahun 1991 pacu jalur sudah menjadi even nasional.
Dalam daerah taluk kuantan sebelum kedatangan belanda di
kuasai oleh pemuka adat, terutama para penghulu masing-masing suku. Pacu jalur
semacam ini diberi hadiah yang bernama “marewa”. Marewa itu berupa semacam
bendera yang berbentuk segi tiga dari kain yang berwarna-warni yang diberi
renda dipinggirnya. Hadiah ini biasanya diberikan kepada para pemenang yang ke
4. Besar kecilnya marewa itu menjadi ukurang sehingga diketahui pemenang 1, 2,
3, 4.
Sesudah perahu jalur yang digunakan untuk mengangkut
hasil bumi tersebut, pernah pula muncul di teluk kuantan sekarang ini, semacam
jalur yang diberi ukiran bermotif kepala binatang pada haluannya. Ukiran itu misalnya
kepala ular, kepala buaya, kepala harimau. Muatan jalur ini juga kira-kira 40
orang jalur yang diukir dengan kepala binatang ini disamping dipacukan juga digunakan untuk
kendaraan orang besar saat itu, yaitu menyambut, menjemput dan mengantar
penghulu, datuk-datuk dan yang lainnya. Jalur yang bermotif gambar kepala
binatang inilah yang mulai menggunakan dukun jalur dan pawing jalur, serta
sudah ada kemudi yang panjang tempat maonjai dan mempunyai lambai-lambai (uu.
Hamidy, 1977 : 15).
Jalur yang sudah mempunyai motif diperkirakan muncul
dalam saat-saat kedatangan belanda sekitr tahun 1903.
Karena pesta pacu jalur yang diadakan belanda itu hanya
sekali setahun, setiap hari ulang tahun ratu belanda maka kedatangan pesta itu
tiap tahun dipandang oleh penduduk rantau kuantan sebagai suatu datangnya tahun
baru. Penduduk kampong rantau kuantan menamakan pesta jalur zaman belanda
dengan sebutan tambaru, yang merupakan pendekan dari tahun baru. Hal ini masih
berlaku sampai sekarang, meskipun pesta pacu jalur sekali setahun di teluk
kuantan diadakan untuk merayakan ulang tahun hari kemerdekaan republic
Indonesia, tapi masih tetap disebut oleh masyarakat setempat dengan tambaru.
2. Proses pemmbuatan jalur.
a. Rapat banjar.
Jalur tidak dapat dibuat begitu saja tanpa melalui
berbagai proses, baik yang menyangkut masalah tenaga atau biaya maupun yang
menyangkut masalah lainnya.
Sebelum jalur dibuat, terlebih dahulu dibentuk suatu
pengurus yang tugasnya mengurus segala sesuatu yang diperlukan dalam pembuatan
jalur. Pengurus ini disebut partuo yang dapat diartikan sebagai orang yang
dituakan. Partuo ini tidak tertentu jumlahnya, juga tidak begitu jelas
pembagian tugas dan wewenang antara sesamanya. Tetapi yang jelas adalah mereka
ini ditunjuk setelah diadakan rapat oleh suatu kampong.
b. Kayu jalur.
Setelah partuo terbentuk maka dicarilah kayu jalur.
Jenis kayu yang dipilih adalah sejenis kayu yang tahan air dan tidak mudah
pecah kalau dibuat menjadi jalur.
Kayu yang dicari untuk jalur adalah kayu yang tahan air,
tidak mudah pecah bila dibuat jalur. Biasanya kayu yang dibuat jalur adalah
kayu kure, kuyhung, banio, kayu tanam dan meranti sogar. Kayu tersebut baru
bias diambil apabila batangnya lurus, besarnya dua kali pelukan orang dewasa.
Dalam mencari kayu jalur harus diiringi oleh dukun kayu,
karena kayu tersebut mempunyai mambang, mambang kayu itu sama dengan nyawa pada
manusia.
Dalam usahamencari kayu jalur ini haruslah didampingi
oleh salah seorang dukun kayu, yaitu orang yang dipandang mempunyai pengetahuan
tentang masalah kayu termasuk masalah mambang yang mungkin tinggal atau
menghuni kayhu itu. Menurut dukun kayu, apabila sudah sampai empat helai daun
kayu itu, maka kayu itu sudah mempunyai mambang. Mambang bagi kayu sama dengan
roh bagi manusia.
c. Menobang.
Jika kayu jalur sudah diperoleh dan sudah sepakat
partujo dengan masyarakat untuk memilih kayu itu, maka diadakan upacara
menebang. Upacara ini tentu saja di dalam hutan, dipimpin oleh dukun jalur atau
orang yang sudah dianggap akan menjadi dukun kelak. Tetapi sekurang-kurangnya
upacara ini dipimpin olehkepala tukang yang biasanya dukun jalur.
Sebelum dilakukan penebangankayu terlebih dahulu dukun
kayu menyembelih seekor ayan yang berwarna kuning, dengan maksud untuk
mendarahi penebangan tersebut agar tidak mendapat halangan dari makhluk-makhluk
halus dalam hutan. Penyembelihan ini dipandang sebagai permintaan kepada
empunya hutan.
d. Tukang jalur.
Setelah kayu ditebang maka tukang sudah dapat mulai
bekerja. Tukang jalur ini ditentukan oleh partuo. Tukang jalur terdiri dari
kepala tukang sebanyak satu orang, pembantu tukang sebanyak dua atau tiga orang
dan anggota masyarakat yang dapat untuk membantu.
Kepala tukang dengan pembantunya mengukur kayu jalur dan
member tanda-tanda, setelah itu dapatlah dimulai bekerja bersama-sama. Kepala
tukang adalah orang yang bukan hanya menguasai masalah tekhnis, tetapi juga
secara magis. Bagi masyarakat kauntan lajunya jalur tidak hanya ditentukan oleh
masalah tekhnis tetapi juga ditentukan oleh masalah magisnya.
Setelah tukang jalur mulai bekerja, maka partuo mengatur
masalah biaya dan tenaga pembantu dari masyarakat. Partuo biasanya membuat
beberapa rombongan yang terdiri lebih kurang 10 orang yang nantinya akan dapat
bekerja membantu tukang utama, yang diberikan upah biasanya hanya kepala tukang
dan pembantunya. Upah tukang sangat relative sekali karena pihak tukang
biasanya tidak memandang pekerjaan itu sebagai pekerjaan upahan. Mereka juga
memandang sebagai kewajiban mereka terhadap kampong, hal ini menyebabkan upah
tukang jarang ditentukan dengan tawar menawar.
Biaya untuk kepentingan tukang itu biasanya diusahakan
oleh partuo, denganjalan mengumpulkan sumbangan dari anggota masyarakat kampong
yang dipandang mampu memberikan sumbangan.
e. Cara membuat jalur.
Setelah kayu
bulat itu ditebang dan diukur oleh kpala tukang dengan pembantunya, maka
dapatlah mereka mulai bekerja. Kayu jalur dikerjakan dengan mempergunakan alat
pertukangan yang masih tradisional.
Setelah hasil pekerjaan mencapai kerangka dasar maka
bagian badan (ruang) jalur diberi lobang dengan bor. Lobang bor itu disumbat
dengan kayu, kayu yang menyumbat itu namanya kakok. Kakoknya ini digunakan
untuk memudahkan tukang mengetahui tebal ruangan jalur, sehingga dengan
mengikuti ukurankakok itu dapatlah ruangan jalur mempunyai ukuran yang sama dan
juga kakok ini berfungsi agar jalur tidak pecah saat pendiangan.
Setelah pekerjaan selesai kira-kira dua pertiga atau
sekitar 60% maka jaluritu didiang. Jalur didiang dengan cara meletakkan api
dibawahnya sehingga nantinya bila panas telah mencukupi, maka ruangan itu akan
dikembangkan dengan cara menarik kekiri dan kekanan, ini biasanya menggunakan
rotan.
f.
Maelo jalur.
Setelah jalur selesai didiangkan di hutan, maka
disiapkan acara maelo, yaitu suatu upacara menarik jalur dengan tali sampai
kekampung.
Hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk maelo jalur adalah
:
Ø Kapan waktu penarikan jalur pertama dimulai.
Ø Orang yang akan menarik jalur.
Ø Pembuat jalan, yang bertugas merintis dan menebas jalan yang akan
dilalui dan menyingkirkan rintangan yang menghalang.
Ø Tukang galang, orang-orang yang bertugas mempersiapkan kayu-kayu
yang akan dijadikan bantalan jalur pada waktu ditarik supaya penarikan lebih
mudah.
Ø Tukang tali, orang-orang yang akan mempersiapkan tali penarik jalur.
Tali dibuat dari danan (sejenis rotan yang besar) berlapis tiga sepanjang lebih
kurang 100 meter. Untuk itu danan tersebut disambung dan diikat dengan rotan
biasa supaya menjadi kuat dan tahan waktu menarik jalur yang cukup besar itu.
Kegiatan maelo jalur bukanlah pekerjaan yang mudah,
selain berat jalan yang ditemph juga jauh dan jalannya tidak mulus bahkan
kadang-kadang melewati rawa-rawa. Namun demikian dalam sejarahnya tidak pernah
ada jalur yang tinggal dalam hutan. Maelo jalur memakan waktu berbulan-b ulan,
karena kegiatan ini tidak dilakukan setiap hari tapi sekali seminggu, makin
dekat jalur kekampung makin tinggi frekuensi penarikan.
Jika jalur sudah siap untuk ditarik, maka seluruh
masyarakat diberitahukan dengan jalan memukul canang pada malam hari dan
diumumkan kapan waktu pelaksanaannya. Ibu-ibu rumah tangga di minta supaya
mempersiapkan nasi bungkus untuk bekal orang yang akan maelo jalur. Kalau jarak
yang ditemph sudah mencapai pertengahan, mulailah wanita dan anak-anak
dilibatkan.
Disinilah dimulai ajang pertemuan antara bujang dan
gadis, kemeriahan akan tampak lebih semarak tatkala masing-masing mulai
memegang tali penarik jalur, berselang seling antara pria dan wanita. Bila
tangan sudah komando yang meneriakkan hitungan… satu … dua … ti..gaaaa, …, lalu
jalur ditarik.
Pelan tapi pasti jalur bergerak sedikit demi sedikit,
disebabkan oleh beratnya jalur yang ditarik maka sambungan tali akan bergeser
dan akhirnya putus. Akibat dari putusnya tali maka penarik akan jatuh
terjerembab berhimpitan satu sama lainnya. Seiring dengan putusnya tali
terdengarlah suara sorakan mereka
berbaur dengan gelak dan tawa kegembiraan. Disitulah letak keindahan dan
keasyikan menarik jalur yang sukar untuk dilupakan, tidak seorang pun yang
memperlihatkan wajah cenberut, letih dan sedih tetapi keceriaanlah yang akan
dijumpai. Semakin dekat jalur kedesa semakin banyak pula berdatangan ikut serta
menarik jalur.
Hal ini disebabkan karena sudah menjadi kebiasaan dari
dahulu, desa yang membuat jalur mengundang desa-desa yang berdekatan untuk
menarik jalur. Masing-masing keluarga harus mempersiapkan secukupnya makanan
bagi anggota keluarga yang ikut, bahkan untuk sanak keluarganya yang laki-laki
yang berlum berkeluarga.
g. Bagian-bagian jalur.
Jalur mempunyai beberapa b again yang setiap bagiannya
mempunyai fungsi yang berbeda-beda pula, adapun bentuk jalur setelah selesai
dikerjakan tukang akan berbentuk seperti gambar berikut :
Gambar jalur setelah selesai dikerjakan.
Keterang :
1. Luan jalur
2. Telinga jalur
3. Ruang jalur
4. Perut jalur
5. Kemudi
6. Ekor belibis
7. Gulung sirih
Jalur dalam bentuk seperti gambar di atas belum dapat
dipakai untuk pacu jalur. Jika jalur hendak dipacukan, maka jalur akan
dilengkapi sedemikian rupa sehingga akan kelihatan seperti gambar berikut ini.
Kegunaan dari setiap bagian dapat diterangkan sebagai
berikut. Luan atau haluan gunanya tempat duduk atau tempat menari tukang tari.
Teling gunanya untuk hiasan. Papan tungkahan adalah tempat duduk tukang concang
(di muka) dan tempat duduk tukang kemudi (di belakang)m debgab adanya papan
mereka dapat bergerak lebih leluasa waktu dalam pacu. Panggar dan ular-ular
adalah tempat duduk, panggar terbuat dari kayu bulat sedangkan ular-ular dari
batang pinang dan juga berfungsi mengatur lebarnya ruangan jalur. karena
ular-ular diikatkan kepada panggar dan panggar diikatkan dengan tembuku, maka
jalur menjadi kuat tidak lemah kalau di onjai. Timbo ruang adalah bagian tengah
jalur yang sengaja dikosongkan ditekankan kebawah oleh tukang onjai, maka
haluan naik atau bergerak keatas. Di kemudi terdapat tempat menyarungkan
lambai-lambai disebut sarang loba. Gulung sirih gunanya untuk tempat menyangkutkan
lambai-lambai. Selanjutnya jalur baru siap untuk dipacukan dan berbentuk
seperti gambar ini.
h. Peralatan jalur.
Di samping factor manusianya, jalur masih mempunyai
beberapa perlatan lainnya. Peralatan sebagian besar sebagai pendukung estetis
atau nilai-nilai seni dan sebagain lagi memang merupakan peralatan penting
yaitu pengayuh atau pendayung.
Secara terperinci peralatan itu adalah :
i.
Pengayuh.
Pengayuh gunanya untuk berdayung, tetapi sesuai dengan
adanya tiga macam golongan orang yang mempergunakannya yaitu tukang concang,
anak pacu dan tukang kemudi, maka pengayuh ada tiga macam sesuai dengan
kebutuhannya.
Pengayuh tukan concang cirinya adalah runcing, daun
lebar, tangkainya pendek dan tidak licin serta ringan. Sedangkan pengayuh anak
pacu cirinya lebar, tipis daunnya, rungcing dan ringan. Sedangkan pengayuh
tukang kemudi paling belar, paling panjang tangkainya.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus